• By Admin

MEMBANGGAKAN! Berkat Karyanya, Mahasiswa STT Migas Balikpapan Ini Bisa sampai ke Prancis


MEMBANGGAKAN! Berkat Karyanya, Mahasiswa STT Migas Balikpapan Ini Bisa sampai ke Prancis


PROKAL.CO, Mahasiswa STT Migas Balikpapan kembali membuat prestasi membanggakan. Yoga Pratama membuat terang daerah pedalaman tak terbendung. Bersama teman-temannya, dia membantu warga mendapatkan listrik.

M RIDHUAN, Balikpapan

SURAMNYA kehidupan di pedalaman Kalimantan seketika berubah. Pada 8 Agustus 2017, lima pria dan seorang perempuan membelah Sungai Semeriot di Sekatak, Bulungan, Kalimantan Utara (Kaltara).

Hujan deras bercampur ombak jeram menjadi tantangan. Menembus sulitnya medan, beberapa kali perahu terbalik dan harus mendayung karena kerusakan motor penggerak perahu.

Sebelumnya, Yoga bersama rekan-rekannya di Forum Komunikasi Bijak Energi Balikpapan melakukan perjalanan dari Tarakan ke Tanjung Selor, Bulungan. Menumpang speedboat memerlukan waktu sekitar 1,5 jam. Melawan dinginnya sungai, mereka kemudian melanjutkan perjalanan ke Kecamatan Sekatak, Bulungan.

Perlu waktu sekitar tujuh jam menyusuri Sungai Semeriot, mereka sampai ke Desa Ujang, RT 3, Sekatak. Tempat tinggal 139 jiwa suku Dayak Punan. Yoga dan teman-temannya menggunakan lima perahu ketinting untuk mengangkut 87 lampu tenaga matahari. Satu set panel surya buatan Prancis dan bantuan alat tulis untuk anak-anak desa sebagai alat penunjang belajar sekolah.

Yoga dan teman-temannya, yakni Rizky, Erie, Budi, Rendy, dan Nanda berjuang agar barang mereka tidak basah. Selain karena lokasi yang jauh dan harga yang mahal. Juga karena barang tersebut merupakan donasi dari masyarakat Balikpapan untuk warga desa.

Total donasinya Rp 22,8 juta. Kami gunakan untuk membeli alat. Kalau lampunya bisa dibeli di sini (Balikpapan), tapi panelnya pesan di Prancis. Semua (donasi) kami kumpulkan, baik dari media sosial, website online, maupun offline, kata Yoga yang juga founder Berbagi Terang saat ditemui di salah satu kafe di kawasan Balikpapan SuperBlok, Minggu (17/9).

Setelah menyeruput kopi hitam tanpa gula, Yoga berbagi pengalaman yang membuatnya menjadi juara pertama kompetisi blog #15HariCeritaEnergi yang digagas Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Untuk mendorong pemanfaatan energi baru terbarukan dan konservasi energi (EBTKE) di kalangan generasi muda usia 1830 tahun.

Dia bersaing dengan 128 peserta dari seluruh Indonesia. Dari yang amatir hingga yang profesional di bidang energi. Awalnya dapat informasi dari rekan-rekan Rawikara Community yang berafiliasi dengan Indonesia Mengajar (lembaga nirlaba yang merekrut pengajar muda yang digagas Anies Baswedan), ungkap alumnus SMK 1 Balikpapan itu sambil membersihkan kacamatanya.

Dia mengatakan, anggota Rawikara Community mengabdikan diri dengan membuka Sekolah Adat Punan Semeriot (SAPS). Tenaga pengajar yang tergabung dalam komunitas itu mengajar anak-anak suku Dayak Punan di Desa Ujang. Di sini (Desa Ujang) anak-anak semangat belajar. Tapi terbatas pencahayaan. Ketika malam susah belajar karena tidak ada lampu, beber inisiator Program Berbagi Terang (program pemberian akses listrik ke daerah pedalaman).

Sebenarnya Desa Ujang pernah memiliki sumber listrik dari generator set (genset) bantuan pemerintah setempat. Namun, selama lima tahun terakhir mangkrak. Rusak dan tidak bisa lagi menyalurkan listrik. Alasannya, pemerintah yang sudah memberikan genset tidak memperhitungkan kemampuan warga. Terutama menyediakan anggaran untuk bahan bakar. Lokasi yang terpencil juga menyulitkan warga memperoleh solar untuk genset.

Informasi itu yang kemudian membuat kami membuka Program Berbagi Terang. Desa Ujang menjadi project pertama kami. Kami kumpulkan donasi dan alhamdulillah bisa terlaksana, ungkap pria 22 tahun itu.

Karena kondisi itu, dia membantu warga di desa tersebut dengan memasang panel surya dan memberikan lampu untuk menyinari rumah penduduk. Rumah adat, yang menjadi lokasi SAPS untuk melakukan proses belajar-mengajar, juga kami beri penerangan lampu, ungkapnya.

Hasilnya, kata dia, tiap malam anak-anak di sana bisa belajar di rumah. Jadi, belajar tak hanya di sekolah saat siang. Namun, kemampuan listrik di sana (Desa Ujang) bermacam-macam. Bergantung pemakaian, katanya.

Dia menjelaskan, satu panel tenaga surya dan satu baterai untuk mengaliri listrik tiap dua rumah. Adapun lamanya mengisi baterai sekitar 34 jam. Sedangkan listriknya mampu bertahan dari 860 jam. Dengan bantuannya itu, kini sekitar 15 rumah warga, gereja, dan fasilitas umum lain di Desa Ujang diterangi lampu.

Yoga memerincikan, untuk pencahayaan lampu mode redup, baterai bisa bertahan hingga 60 jam. Namun, bila menggunakan mode terang, listrik hanya bertahan sampai 12 jam. Satu panel itu kira-kira sekitar 36 watt daya listriknya, ujarnya.

BIKIN KARYA TULIS

Menurut dia, lewat proyek itu, dia membuat artikel tentang energi. Sebelumnya tidak pernah. Hanya tertarik dengan membaca tulisan tentang energi. Ternyata, dari 476 artikel dan dipresentasikan ke Kementerian ESDM, terpilih 10 orang dibawa ke Jakarta. Mengikuti rangkaian Youth Forum di Bali Clean Energy Forum (BCEF) 2017. Dari 10 itu, saya terpilih menjadi juara pertama. Enggak menyangka juga, bebernya.

Alasan terpilihnya Yoga lantaran implikasi dari project Berbagi Terang dirasakan langsung oleh masyarakat, khususnya di pedalaman. Isu listrik di wilayah tertinggal masih menjadi pembahasan pokok di Indonesia. Apalagi di Kaltim dan Kaltara yang disebut lumbung energi. Sementara itu, banyak masyarakat di kawasan terpencil seperti di Desa Ujang yang masih gelap.

Setiap warga negara berhak memperoleh hak yang sama. Seperti listrik juga harus dirasakan oleh masyarakat terpencil. Apalagi tema yang saya bawa adalah sinergi membangun negeri, sebutnya. Di wilayah yang kaya energi ternyata masih banyak desa yang masih gelap. Karena itu dengan energi baru terbarukan dengan sinar matahari dikonversi ke listrik diharapkan mampu menerangi desa yang belum tersentuh listrik PLN, sambungnya.

Mahasiswa semester VII, Jurusan Teknik Perminyakan STT Migas, itu menyebut selain karya tulis, presentasinya berhasil meyakinkan dewan juri. Karena bukan hanya gagasan yang dia celotehkan. Melainkan aksi nyata di lapangan. Bahkan, selain Desa Ujang, masih ada sembilan desa di Sekatak yang akan dibantu agar terang dengan bantuan panel surya.

Di Indonesia itu masih ada 2.519 desa yang belum dialiri listrik. Makanya tahun ini ada 10 desa yang menjadi target kami. Saat ini, kami sedang menjalani dua project. Yakni, di Desa Pepera, Kabupaten Asmat, Papua, dan di Desa Muara Toyu, Paser. Sisanya masih kami survei, papar ketua Earth Hour Indonesia Balikpapan itu.

Sejak awal, kesulitan yang paling dirasakan adalah mengumpulkan donasi. Untuk Desa Ujang misalnya, tanpa bantuan dari masyarakat Balikpapan, uang untuk membeli peralatan listrik tidak akan terbeli. Sementara itu, bantuan pemerintah tidak bisa diharapkan. Pernah Yoga mengirimkan proposal ke pemerintah setempat, namun tidak ada uang yang diberikan. Mereka enggak bisa bantu secara dana. Jadi, semua donasi murni dari masyarakat dan swasta, lanjutnya.

Akan tetapi, pintu terbuka ketika dia berhasil menyabet juara. Yoga saat ini berusaha membangun komunikasi agar Kementerian ESDM ikut andil dalam programnya. Tidak hanya itu, dia sedang membangun relasi dari berbagai pihak. Itu dilakukan untuk melahirkan gagasan dan teknologi tepat guna sebagai program selanjutnya.

Teknologi panel surya yang kami pasang memang dirakit di Indonesia. Namun, alatnya sendiri dari Perancis. Jadi, kami ingin mencari apakah ada teknologi yang lebih baik. Namun lebih dari itu challenge kami adalah funding. Pendanaan itu yang paling penting bagi komunitas seperti kami, yakin Duta Wisata Balikpapan 2013 itu.

Langkah terdekat, Yoga akan berangkat ke Paris, Perancis, Januari 2018 mendatang. Di sana dia bakal menjadi salah satu duta Indonesia di International Youth Clean Energy Forum. Selama sepekan dia akan berkenalan dan membangun jaringan dengan duta lain dari seluruh dunia. Tidak hanya itu, dia punya tugas penting. Menginformasikan kepada dunia bahwa Indonesia saat ini sedang gencar memanfaatkan energi baru terbarukan (EBT).

Kami akan sampaikan jika ini lho Indonesia. Enggak juga dikenal sebagai perusak alam. Tetapi juga sedang berusaha menggunakan EBT. Banyak komunitas yang peduli terhadap kondisi listrik di perbatasan, papar pria bercita-cita menjadi wali kota Balikpapan itu.

Menurut dia, tidak harus menunggu pemerintah untuk ikut andil. Sebab, jelas akan memerlukan waktu yang panjang. Tapi kalau kami berdikari (berdiri di atas kaki sendiri), maka progresnya akan lebih cepat, bebernya. (rom/k8)

Artikel Lainnya

Kerjasama